Kamis, 04 Agustus 2011

Tergugu ku Disampingmu, Nek!

Aku benar-benar kecewa saat itu, karena tidak bisa ikut acara nobar ”nonton bareng” film Rumah Tanpa Jendela”3 Maret 2011 di Dance Cafe, Hong Kong. Yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena, karena saat itu aku sedang berada di Macau.



Walaupun saat tersebut aku malah memiliki kesempatan jalan-jalan bareng sutradara dan produsernya langsung keliling Macau, tetapi tetap saja aku sangat menyesal. Hingga ketika perpisahan di Madau Tai Pa, Macau, untuk mengantar mereka kembali ke Hong Kong, Mas Adit dan Mas Adenin berjanji akan mengirimkan buku sekenario RTJ begitu sesampainya di Jakarta.



Besoknya teman-teman flp menghiasi note facebooknya beramai-ramai memuji film yang diadaptasi dari cerpen Asma Nadia tersebut, dan mengisahkan serunya belajar workshop menulis sekenario bersama mereka berdua, sesalku semakin bertambah.



”Aku terpaksa mengabaikan popcronku, karena sibuk menangis” salah satu teman yang ikut acara nobar di Jakarta bareng langsung penulisnya berkomentar demikian. Asli, bikin aku tambah iri dan penasaran.



Dua minggu yang lalu, entah karena ingat dengan janjinya atau karena aku yang rajin nginbox panitianya, hehe, buku sekenario itu sampai juga ditanganku.



Berhubung jam kerjaku 24 jam, jadi baru saat ini buku setebal 200 halaman itu bisaku baca, kebetulan Si Boss sedang menengok rumahnya di China.



Di samping nenek yang terkantuk-kantuk dengan korannya, aku sibuk menyeka ingus dan air mata.







”Lei so a?”kata nenekku yang kata-katanya tidak pernah halus. Mengatakan apakah aku sudah tidak waras membaca buku sampai menangis. Hupss!



Benar kata Mbak Asma, sudah saatnya film-film yang mengusung tema sosial bangkit. Masyarakat Indonesia jangan hanya dicekoki oleh film-film horor yang erotis.

Kolom Komentar

0 komentar:

Posting Komentar