Kamis, 04 Agustus 2011

Kristal Jiwa

By :
Ratu Bilqis

”Bisa diundur besok?”

Aku pura-pura simpatik pada tamuku dengan menawarkan waktu lebih, padahal badanku sudah memberikan warning, sepertinya aku harus mengunjungi dokter untuk kedua kalinya winter tahun ini.

”Tidak, aku takut besok tidak adalagi kesempatan untuk menemuinya”

lebih dari itu, Si lelaki menyarankan untuk memilih Taxi sebagai kendaraan bila memang terperangkap malam.

”Tidak perlu! Kita akan berjalan kaki melewati casino itu, dan menggunakan jasa angkutan umum yang akan membawa kita ke Jembatan Wong Kaisi”

sergahku menghalangi gerakan tangannya yang seketika hendak menghalau sebuah taxi di ujung jalan.

Aku masih tak habis pikir, mengapa orang sepertinya masih bersikeras untuk bertemu dengan seseorang, yang entah ketika kami sampai disana polisi sudah terlebih dahulu mendatanginya, atau bahkan mungkin dia sendiri yang pergi meninggalkan bawah jembatan, memasuki salah satu casino untuk mengambil sepotong roti yang bisa diambilnya secara cuma-cuma, demi menghalau lapar dibawah dinginnya gigitan wintter yang sedang turun drastis berada dititik terendah tahun ini.

”Apa yang bisa anda perbuat?”

sekedar ingin memecahkan kesunyian antara kami yang sedang beregelayutan di bis yang sesak. Tetapi aku juga tidak mengharapkan jawaban klise seperti orang-orang KBRI, birokrasi !

”Aku ingin mengajaknya tidur di motelku, setidaknya untuk malam ini”

perkataan yang keluar dari seorang yang sedang menatap keluar jendela melihat padatnya jalanan sekitar San Malo itu membuatku seketika seperti telah disuntik antibiotik, mematikan virus yang sedang membelah diri didalam tubuh. Tak pernah mengira Si Lelaki akan memberikan jawaban seperti ini.

* Seseorang dengan kulit pekat tertunduk, terus diremasnya jari-jari hingga beberpa menit saat sebuah kamera canggih, pegangan Si Lelaki semenjak kemarin saat aku menjemputnya di dermaga, mengarah ketempatnya duduk bersila diatas lantai.

Mental baja yang dibawanya dari salah satu pelosok kota Jawa telah direnggut oleh para pecundang. Manusia tak berhati telah memakan puluhan juta harta warisan dari sebidang tanah yang dijualnya. Hanya mendamparkan Ia disana tanpa kontrak kerja nyata, tanpa visa.

Mata merah saga itu mengeluarkan buliran air tanpa isak.

”Apa yang bisa anda lakukan?”

pertanyaan yang sama kembali harus dijawab oleh Si Lelaki, kini dari Dia, Sipemilik mata saga berkulit pekat.

”Aku hanya punya ini”

tanpa melalui birokrasi yang rumit, spontan Si Lelaki itu memberikan sesuatu yang akan menerbangkannya ke Pulau Jawa.

***
Mengenang Februari, Seorang Aku, Aditya Gumay dan TKI terlantar Macau.

Kolom Komentar

0 komentar:

Posting Komentar