Kamis, 04 Agustus 2011

Semua ada Masanya

Hujan merimbunkan

dedaunan tumbuh sedemikian hijau, menutup setiap batang

ranting serupa brokoli yang bergerombol. Saat kemudian datang

kemarau, satu persatu helai-helai daun itu akan beranjak menjadi kuning layu,

untuk kemudian gugur perlahan melepaskan diri dari ranting penumbuhnya. Di

kemudian masa, dari seorang guru yang selalu dibalut

jilbab yang tidak terlalu lebar dan tidak pula terlalu ketat, seorang Cucun

Patonah, Ibu Cupa kami biasa menyebut wanita cantik dari parahiangan yang

membuat aku bercita-cita menjadi sepertinya, seorang guru biologi, mengatakan bahwa gugurnya daun-daun

itu adalah demi memberikan peluang tumbuh pada putik bunga yang sedang memulai

masa awal tumbuhnya. Pohon memberimu sebuah

pelajaran.





Daripadanya kau belajar bahwa proses gugur

daun itu tidak hanya sebagai penanda musim belaka, melainkan pemahaman tentang

arti saling berbagi waktu dan kepentingan demi menjalin kesinambungan

kehidupan. Memberi peluang bagi satu sama lain, masing-masing tumbuh menelusuri

jalur perjalanan sesuai garis alam hingga hidup terus berlanjut.





Di musim kemarau hujan

tak lagi datang, ketiadaan air tanah makin terbatas, sementara matahari kemarau

justru memaksimalkan penguapan pada setiap helai daun. Sementara putik-putik

bunga itu serupa bayi pembawa gairah hidup yang harus tetap tumbuh, maka

daun-daun memilih mengugurkan diri, demi supaya air tetap terbagi hingga

bunga-bunga itu mekar pada waktunya.





Selalu datang musim mekar

itu. Puncaknya adalah ketika daun-daun telah nyaris gugur seluruhnya. Tak ada

lagi gerumbul brokoli hijau pada ranting-rantingnya, melainkan

kelopak-kelopak bunga.





Kuntum-kuntum itu hanya

mekar dalam hitungan hari, untuk kemudian berjatuhan demi giliran mekar putik

bunga yang berikutnya.

Kolom Komentar

0 komentar:

Posting Komentar