Jumat, 22 Juli 2011

Maksud dan Tujuan Manusia dalam Kehidupan Manusia

Al Quran itu dianugerahkan-Nya bagi manusia sebagai petunjuk hidup manusia dan terdapat penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu sekaligus pembeda antara yang benar dan yang salah. Karena itu, adalah keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan memahami lebih dalam tujuan-tujuan Al Quran.
Salah satu ciri menonjol dari bulan Ramdhan dibanding bulan-bulan lainnya adalah ramainya kumandang bacaan Alquran. Memang Ramadhan juga disebut sebagai Syahrul Quran. Karena Al-Quran pertama turun pada bulan Ramadhan (QS. Al-baqarah 185). Makanya, tak heran jika kaum muslimin seakan-akan berlomba membaca kitabullah saat Ramadhan, baik sendirian maupun berkelompok. Tidak hanya di masjid atau mushala, bahkan di perkantoran dan media elektronik -seperti radio- juga lazim kita dengarkan lantunan ayat suci Al Quran.
Di balik itu, kita perlu memperhatikan makna dan maksud yang terkandung dalam Al Aquran. Dalam keutamaan membaca Al Quran yang memang dijanjikan berpahala, terdapat tujuan-tujuan diturunkannya Al Quran bagi kehidupan manusia. Hal ini bisa kita tilik pada rangkaian ayat-ayat yang menerangkan bulan Ramadhan dan puasa (QS. Al Baqarah 183-187).
Di tengah-tengah perintah berpuasa di bulan Ramadhan, Allah menyelipkan tujuan diturunkannya Al Quran. Allah berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah 185).
Berdasar ayat tersebut, Al Quran itu dianugerahkan-Nya bagi manusia sebagai petunjuk hidup manusia dan terdapat penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu sekaligus pembeda antara yang benar dan yang salah. Karena itu, adalah keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan memahami lebih dalam tujuan-tujuan Al Quran. Berikut ini sekelumit tentang tujuan-tujuan Al Quran (diolah dariBagaimana Interaksi dengan Al Quran, Yusuf Al-Qaradhawi, Al Kautsar, hlm. 67-129):
1. Meluruskan aqidah dan berbagai persepsi/kepercayaan
    Tujuan yang pertama dari upaya meluruskan akidah ini tecermin dari:
    a. Meneguhkan sendi-sendi tauhid (keesaan Allah)
      Al Quran menganggap syirik sebagai kejahatan paling besar yang dilakukan manusia. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. Annisa 48).
      Sebab, syirik merupakan kezaliman terhadap hakikat, pemalsuan terhadap kenyataan dan penurunan martabat manusia dari kedudukannya sebagai pemimpin alam semesta sebagaimana dikehendaki Allah. Lalu dengan berbuat syirik, manusia beralih ke martabat penghambaan dan ketundukan kepada makhluk baik berupa benda mati, tumbuhan, hewan, manusia, dll.
      Allah berfirman lewat pesan Luqman kepada putranya, ”…Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman 13).
      Alquran membuka jalan bagi Allah dan manusia sehingga tidak ada tempat bagi perantara dan pengantar yang membual dan mengaku memiliki simpanan hubungan antara Allah dan makhluk-Nya. Para perantara ini menumbuhkan persepsi di benak manusia bahwa tak seorang pun bisa sampai kepada Allah kecuali lewat perantara itu.
      Padahal pintu (ampunan dan doa) Allah terbuka bagi siapa pun yang menghendaki-Nya. Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al baqarah 186). Firman-Nya yang lain, “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS. Al Mukmin 60).
      Al Quran memperbaiki sendi tauhid yang dirusak agama paganis (penyembah berhala) dan ahli kitab. Yahudi menganggap Allah serupa dengan makhluk yaitu Allah itu lelah, menyesal, takut, mendengki, memusuhi orang Israel sehingga mereka dapat mengalahkan-Nya.
      Sementara agama Nasrani tersusupi paganism Romawi sehingga paganisme ini memenuhi gereja dengan berbagai patung dan gambar. Lalu muncul keyakinan trinitas, salib dan penebusan dosa yang berasal dari ajaran Hindu dalam Kresna. Mereka menghapus nama Kresna lalu menggantinya dengan nama Yesus.
      b. Meluruskan Akidah tentang Nubuwah dan Risalah
        • Menjelaskan kebutuhan terhadap nubuwah (kenabian) dan risalah, sehingga manusia tidak punya alasan di hadapan Allah setelah diutusnya para rasul itu
        “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. An Nahl 64).
        • Menjelaskan tugas para rasul dan menyenpaikan kabar gembira dan peringatan. Mereka bukan tuhan yang disembah dan bukan pula anak-anak tuhan. Tapi mereka manusia biasa yang mendapat wahyu. Mereka hanya menyampaikan seruan kepada keesaan Allah dan tak kuasa member petunjuk hati atau menguasai hati manusia.
        “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (QS. Al Ghassiyyah 21-22).
        • Mendustakan berbagai syubhat yang dibangkitkan orang-orang terdahulu di hadapan para rasul seperti perkataan mereka, “Sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia akan menurunkan para malaikat (kepada kami).” Firman-Nya, “Katakanlah, ‘Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul’” (QS. Al Kahfi 95).
        • Menjelaskan akibat orang yang membenarkan para rasul dan yang mendustakan.
        “Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Yunus 103).
        c. Memantapkan akidah iman kepada akhirat dan pembalasan
          Ada beberapa cara yang dipakai Alquran untuk memantapkan aqidah, antara lain:
          • Menghadirkan dalil-dalil tentang kemungkinan hari kebangkitan dengan menjelaskan kekuasaan Allah untuk mengembalikan makhluk seperti sedia kala
          “Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ar Rum 27).
          • Peringatan tentang penciptaan alam yang besar sehingga penciptaan manusia ternyata sesuatu yang kecil bagi Allah
          “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al Ahqaf 33).
          • Menjelaskan hikmah Allah dalam hari pembalasan. Agar orang berbuat baik tidaklah sama dengan yang berbuat jahat sehingga hidup ini tidak sia-sia.
          “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (QS. Shad 28).
          • Menjelaskan janji yang ditunggu orang beriman dan akibat bagi orang kafir di akhirat kelak
          “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (QS. An Naziat 35-41).
          • Mengugurkan berbagai macam prasangka yang dihembuskan orang kafir dan musyrik bahwa sesembahan mereka akan memintakan syafaat dari sisi Allah kelak. Juga menangkis kepercayaan ahli kitab yang akan mendapat syafaat dari sisi Allah lewat pendeta mereka.
          “Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An najm 38-39).
          2. Menetapkan kemuliaan manusia dan hak-haknya
          a. Menetapkan kemuliaan manusia
          “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al Isra 70).
          b. Menetapkan hak-hak asasi manusia (HAM)
            • hak kebebasan berpikir. “Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Yunus 101).
            • hak kebebasan berkeyakinan. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (QS. Albaqarah 256).
            • hak kebebasan berkata, menyuruh atau melarang. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar…” (QS. At Taubah 71).
            • hak persamaan derajat. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu…” (QS. AlHujurat 13).
            Masih banyak hak manusia lainnya, baik sebagai individu, dalam keluarga, masyarakat maupun bernegara.
            c. Menguatkan hak orang-orang yang lemah
              Al quran juga menaruh perhatian dan kepedulian secara khusus bagi orang-orang lemah. Karena kuatir mereka akan menjadi objek penindasan orang-orang yang kuat atau keadaan mereka diabaikan para penguasa dan mereka yang mestinya bertanggung jawab
              • Anak yatim. “…terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang” (QS. Ad Dhuha 9).
              • Orang miskin. “Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin” (QS. Al Haqqah 33-34).
              “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’” (QS. An Nisa 75).
              3. Ibadah dan takwa kepada Allah
                Tidak ada satu pun dari kitab-kitab suci yang menghimpun pujian kepada Allah, mengingatkan keluasan ilmu-Nya, ketinggian hikmah, keagungan kekuasaan, ketidakterbatasan kehndak, keagungan ciptaan, kelapangan rahmat, pengaruh rububiyah (kemahapenciptaan Allah), berdiri di hadapan-Nya, anjuran ibadah kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, ketundukan kepada-Nya, ikhlas karena-Nya, tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya, bersyukur dan bertawakkal kepada-Nya, sabar terhadap Nya dan ridha terhadap qadha-Nya selain dari Al Quran. Berikut ini contoh-contohnya:
                • Ibadah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat 56).
                • Syukur. “Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir 3).
                • Takwa. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” (QS. Al Ahzab 70-71).
                Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
                4. Mensucikan (Tazkiyah) Jiwa Manusia
                  Al Quran mengajak untuk mensucikan jiwa manusia. Tak ada keberuntungan di dunia dan akhirat kecuali dengan pensucian ini. “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy Syams 7-10).
                  “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Ali Imran 164).
                  Terkait ini, secara global tugas Nabi saw. ada dua:
                  • Mensucikan akal dari khurafat syikirk dan kebatilan-kebatilannya, mensucikan hati dari kekerasan dan kekasaran Jahiliyah, mensucikan kehendak dari syahwat hewani dan ambisi liar serta mensucikan perilaku dari kehinaan jahiliyah
                  • Menumbuhkan akal dengan ma’rifat (pemahaman yang terang), menumbuhkan hati dengan iman, menumbuhkan kehendak untuk melaksanakan amal shalih dan menumbuhkan perilaku dengan mengikuti keadilan, kebajikan, dan akhlak yang mulia.
                  5. Membentuk Rumah tangga dan berbuat adil terhadap wanita
                  a. Perkawinan. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum 21)
                  Al Quran menentang dua kecenderungan yang menyimpang terkait fitrah syahwat seksual:
                  • Kecenderungan kerahiban/kebiarawanan yang bertentangan dengan fitrah serta mengharamkan perkawinan
                  • Kecenderungan permisivisme yang memberikan kebebasan seks tanpa batas ataupun kendali
                  b. Keturunan yang baik. “Dan orang orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’” (QS. Al Furqan 74).
                  c. Kesamaan agama dalam perkawinan. “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al baqarah 221).
                  d. Keadilan terhadap wanita dan membebaskannya dari kezaliman
                    “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An Nahl 97).
                    6. Membangun Umat yang menjadi Saksi atas kehidupan manusia
                      Al Quran bertujuan untuk membangun suaru umat yang hebat, dan unggul yang melaksanakan risalahnya, membentuk kehidupan yang berdasarkan aqidah dan syariatnya, mendidik generasi muda di atas petunjuknya, memikul risalahnya ke seluruh alamsambil menyebarkan rahmat dan kebaikan kepada manusia.
                      “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu…” (QS. An Nisa 135).
                      Sifat-sifat penting umat berdasar Al Quran:
                      1. Rabbaniyah (mengajarkan & mempelajari Al Quran). “…Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. Ali Imran 79).      ]
                      2. Wassthiyah (umat pertengahan). “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (adil/pertengahan) dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al Baqarah 143).
                      3. Dakwah. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran 110).
                      4. Persatuan. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…” (QS. Ali Imran 103).
                      5. Keyakinan terhadap suatu umat tidak menghilangkan kekhususan yang dimiliki setiap umat
                      “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…” (Qs. Al Mujadalah 22).
                      7. Seruan ke alam manusia yang saling tolong-menolong
                        Sejak risalahnya pertama kali, Al Quran merupakan risalah yang mendunia, dakwah bagi semua manusia, rahmat bagi setiap hamba Allah, entah mereka itu bangsa Arab atau bukan.
                        “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (QS. Al Furqan 1).
                        “…katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)’. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat” (QS. Al An’am 90).
                        Rahmat ini tampak pada sejumlah prinsip, di antaranya:
                        • Membebaskan manusia dari penyembahan/penghambaan kepada manusia
                        “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS. At Taubah 31).
                        • Persaudaran dan persamaan antarmanusia
                        “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…” (QS. Al Hujurat 13).
                        • Keadilan untuk semua manusia
                        “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. An Nisa 58).
                        • Perdamaian Internasional
                        “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Anfal 61).
                        “…tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka” (QS. An Nisa 90).
                        • Tenggang rasa terhadap nonmuslim
                        “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al Mumtahanah 8-9).

                        Kolom Komentar

                        0 komentar:

                        Posting Komentar